Atiqah Hasiholan: Urat Malu Saya Masih Ada, Tak Seperti Ibuku

Seruindonesia.com – Atiqah Hasiholan, aktris berbakat Indonesia yang dikenal atas aktingnya yang menawan dalam filmJAMILA DAN SANG PRESIDEN, adalah putri aktivis Ratna Sarumpaet.

Ratna dikenal sangat vokal memperjuangkan hak-hak asasi manusia di Indonesia.

Seniman yangconcern di seni drama ini, juga giat mengkampanyekan demokrasi, hal yang sangat riskan saat era Orde Baru.

Namun, ternyata sifat sang ibu yang sangat kritis terhadap pergerakan politik pemerintah, tidak serta merta mendorongAtiqah untuk terjun di dunia politik. “Untuk terjun ke politik nggak (ingin), sih. Aku cuma pemerhati politik dan aku lebih ke (gerakan) sosial juga sebenarnya.

Jadi aku memang selalu mencari tahu apa yang sedang terjadi. Tapi untuk terjun ke politik, aku nggak deh,” ungkapnya saat ditemui tim Kapanlagi® di Press Screening film2014 di XXI Epicentrum, Kuningan Jakarta Selatan, Senin (16/2) kemarin.

Istri aktor ganteng Rio Dewanto ini juga mengungkapkan jika dirinya berbeda jauh dari sang ibu yang sangat vokal. “Beda ya, karena ibuku itu urat takutnya udah putus.

Jadi apa yang dianggap benar, dia speak up. Walaupun ada yang suka atau nggak, dia cuek dan itulah ibuku.

Kalo aku mungkin urat malunya belum putus. Jadi belum mau. Tapi aku sama dengan ibuku, kita sama-sama menyuarakan kebenaran,” ujar aktris 33 tahun ini.

Atiqah Hasiholan dalam film 2014/©Kapanlagi.com®/BusanAtiqah Hasiholan dalam film 2014/©Kapanlagi.com®/Busan

Walaupun begitu, Atiqah sangat tertarik berperan dalam film-film bertemakan politik, seperti film terbarunya 2014. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Rahabi Mandara ini bercerita tentang pergolakan politik yang terjadi di Indonesia.

2014 rencananya akan ditayangkan pada Agustus 2014 lalu. Namun karena satu dan lain hal, film ini baru akan dirilis 26 Februari mendatang.

Atiqah mengungkapkan film barunya ini memang punya kemiripan dengan fenomena yang terjadi di kehidupan nyata namun jelas memiliki perbedaan, “Beda ya, karena ini kan cerita fiksi. Kalau kritikan politik, iya ada.

Tapi tidak hanya untuk di Indonesia, tapi juga negara lain. Nah, film ini bisa menjadi wawasan untuk anak muda tentang apa sih politik. Walaupun politik tidak selamanya kotor,”jelasnya.

Atiqah yang juga update tentang fenomena politik di negeri ini, menyampaikan komentarnya tentang skandal yang menimpa KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan Polri, “Sebenarnya kalau ngomongin konflik di negara ini, aku miris aja.

Kalo kita liat negara maju lainnya, mereka udah pada jauh memikirkan hal yang lebih maju. Tapi kita masih kesedot untuk memikirkan hal-hal yang nggak perlu dipikirkan lagi.

Saya sangat menyayangkan. Seharusnya pemerintah lebih memikirkan kesejahteraan rakyat.

Karena bukan memikirkan hanya untuk makan besok aja, tapi untuk 50 atau 100 tahun ke depan beda lagi,” pungkasnya.

Sumber: Kapanlagi.com

Komentar

Komentar Anda

Tentang seruni cyber 10528 Articles
Portal Berita Nasional, Jagonya Pemberitaan !!! Nusantara | Peristiwa | Lifestyle | E-tainment | Sport | Artikel | Video