Terima Uang Puluhan Juta dari Abu Walid dan Sempat Urus Kebutuhan Abu Bakar Baasyir

Seruindonesia.com – Informasi yang dihimpun, Harry Kuncoro ini lahir di Klaten pada 27 Januari 1977. Nama panggilannya Uceng sementara nama yang tertera di KTP palsu adalah Wahyu Nugroho.

Dia sempat bergabung ke kelompok Taliban Melayu pimpinan Bagus pada tahun 2011. Dia juga menerima dana dari kelompok Bima melalui seorang napi terorisme bernama Abrory Maskadov dan membeli senjata api senilai Rp25juta pada tahun 2011.

Saat ditangkap pada 3 Januari 2019 itu, Harry menggunakan paspor asli tapi palsu (nomor paspor C1472753), dokumen paspor asli tapi identitasnya palsu. Identitas yang tertera bernama Wahyu Nugroho kelahiran Karanganyar 11 Januari 1985, alamat Jalan Sersan Sadikin 45 RT01/RW07, Kelurahan Gergunung, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Hari membuat paspor dibantu jaringannya sekira bulan September 2018, berkomunikasi melalui aplikasi Telegram. Dia datang ke Kantor Imigrasi Tanjung Priok sekira akhir September 2018 menyerahkan data/identitas palsu; KTP sementara atas nama Wahyu Nugroho, KK palsu dengan nama kepala keluarga Wahyu Nugroho dan BAP kehilangan paspor atas nama Wahyu Nurgoho. Untuk keperluan membuat paspor, Harry membayar Rp2,5juta.

Sekitar tahun 2015, ketika masih ditahan di Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Harry berkomunikasi dengan Abu Walid yang posisinya sudah di Suriah bergabung ISIS. Ketika itu, dia divonis 6 tahun penjara di PN Jakarta Barat pada 15 Maret 2012, sebabnya dia menyembunyikan Dulmatin serta terlibat dalam distribusi senjata dan amunisi untuk kelompok Dulmatin di wilayah Jateng. Pada Maret 2016 dia bebas murrni dari Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Cilacap.

Surat bebas penjara Harry Kuncoro dari Lapas Pasir Putih Nusakambangan pada tahun 2016 lalu

Bebasnya Harry Kuncoro sesuai dengan Surat Kepala Lapas Pasir Putih nomor W:13.PAS.24.PK.01.01.02-097 tertanggal 20 Maret 2016. Saat bebas dia dikawal ketat mulai dari petugas lapas hingga Brimob Polda Jateng. Saat ditahan di Lapas Pasir Putih, Harry Kuncoro menghuni Blok D sekamar dengan Ustaz Abu Bakar Baasyir ketika itu. Harry juga membantu menyiapkan keperluan sehari-hari kebutuhan Ustaz Abu Bakar Baasyir mengingat usia sang ustaz yang sudah tua.

Harry ini juga punya banyak nama alias seperti Husain, Bahar, Salim, Joko Suseno, Seno, Roni, Rahmat, Muhammad, Shobari, Ibnu, Agus, dan Bagus, Selain nama panggilan Uceng dan nama lain Wahyu Nugroho seperti yang tertera di paspor palsu ketika ditangkap Densus88 di Bandara Soetta Tangerang 3 Januari 2019 lalu.

Sementara itu, saat berkomunikasi dengan Abu Walid untuk rencana hijrah ke Suriah itu, Harry memang punya motivasi bergabung kelompok Abu Walid di Suriah.  Dia menerima dana dari Abu Walid Rp30juta untuk keperluan berangkat ke Suriah.

Setelah dapat paspor, Harry sempat melapor ke Abu Walid via Telegram, dan oleh Abu Walid diberikan sejumlah dana untuk biaya perjalanan ke Suriah.  Dia mendapat arahan dari Abu Walid jika jalur ke Suriah yang terbuka adalah melalui Khurasan, Iran.

Abu Walid sempat memberikan kontak Telegram jaringannya di Indonesia yang berada di Khurasan yakni Abu Yahya.  Pertengahan Desember 2018, Abu Yahya menghubungi Hari melalui Telegram, meminta email dan foto paspornya. Selanjutnya mereka berkomunikasi via TamTam Messenger.

Karena itulah Harry menurut untuk terbang ke Iran, sebelum akhirnya kembali ditangkap Densus 88 itu. Hari memperoleh tiket pesawat Jakarta (Soetta) – Iran (Teheran) via online.

Komentar

Komentar Anda

Tentang seruni cyber 11595 Articles
Portal Berita Nasional, Jagonya Pemberitaan !!! Nusantara | Peristiwa | Lifestyle | E-tainment | Sport | Artikel | Video