Dari Bom Bali I hingga online dengan Jaringan ISIS di Nusakambangan

Seruindonesia.com – Nama Harry Kuncoro yang ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Provinsi Banten, pada Kamis 3 Januari 2019 saat hendak terbang ke Iran, bukanlah ‘orang baru’ dalam jaringan terorisme.

Harry punya sepak terjang cukup panjang. Dia sempat jadi buronan Bom Bali I, dan setidaknya punya 9 nama alias; mulai dari Joko Suseno, Husen, Ucen, Bahar, Salim, Rahmat Nugraha, Nugraha, Sahroni Bagus, Ibnu Bagus, hingga Wahyu Nugroho. Nama terakhir ini digunakan Harry Kuncoro di paspor saat ditangkap Densus 88 di Bandara Soetta 3 Januari 2019 itu. Dia juga kerap berpindah – pindah tempat, di Jawa, luar Jawa hingga Malaysia, Filipina, sempat juga mengutarakan niatnya kabur ke Pakistan.

Harry Kuncoro lahir di Klaten, 27 Januari 1977, alamat tinggal di Jalan Sersan Sadikin nomor 45, Kelurahan Gergunung, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Berikut sepak terjangnya;

November 2010 – Februari 2011

Harry tercatat sempat tinggal kos di Jalan Asparaga 7 Tegalsari, Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Dia tinggal kos bersama seseorang bernama Cahya Fitranto (ditangkap Densus 88 Antiteror).

Mereka datang secara bertahap dari bulan November 2010 – Februari 2011.

Harry Kuncoro sempat ikut kursus bahasa Inggris di beberapa lembaga kursus di sana. Salah satunya di lembaga kursus Kresna, Pare, Kediri yang jaraknya sekira 200 meter dari tempat kosnya.

Di lokasi tinggal yang dikenal dengan sebutan Kampung Inggris itu, Harry sempat melakukan latihan bongkar pasang senjata api.

Saat itu, dia tercatat gabung dalam kelompok Jamaah Islamiyah (JI), jadi anak buah Noordin M Top dan Dr Azhari.

Tahun 2009

Berdasar putusan pengadilan atas tindak pidana terorisme Abrory alias Abrory M. Ali alias Maskadov alias Abrory Al Ayyuby (pendiri Ponpes Umar bin Khattab, Bima, NTB), teregister nomor:80/PID/2012/PT.BTN, nama Harry disebut dalam amar putusan tersebut.

Ketika polisi mengadakan konferensi pers terkait penangkapan Harry Kuncoro di Mabes Polri, Jakarta, Senin (11/2/2019), nama Abrory juga disebut polisi punya keterkaitan dengan dia.

Hasil penelusuran, Harry Kuncoro dengan Abrory ini kali pertama kenal pada tahun 2009. Ketika itu Harry datang ke Kabupaten Bima menemui Uqbah alias Mujihadulhaq alias Mujahid alias Muhajir.

Oleh Uqbah, Harry dikenalkan kepada Abrory. Saat itu Harry berterus terang kepada Abrory kalau dirinya adalah buronan kasus Bom Bali I. Harry juga mengaku adik ipar dari Dulmatin (yang juga terlibat kasus Bom Bali I dan kasus pelatihan militer di Aceh – yang telah meninggal dunia).

Selanjutnya, Abrory mengizinkan Harry Kuncoro tinggal dan bersembunyi di Pondok Pesantren Umar bin Khattab. Harry tinggal selama 3 bulan di sana. Setelah Lebaran Haji (Idul Adha 2009 – tanggal 27 November 2009), Harry Kuncoro, Harry berpamitan kepada Abrory untuk pulang kembali ke Jawa karena sudah merasa aman.

Pada bulan April 2011, Harry Kuncoro sempat menelpon Abrory memberitahu kalau dia ingin melarikan diri ke Pakistan dan butuh uang.  Sekitar bulan Mei 2011 alias sebulan setelah ditelpon Harry, Abrory bersama beberapa temannya yakni Firdaus, Anas, Khairi alias Heri dan Abdussalam mengirim uang sebesar Rp25juta kepada Harry Kuncoro secara bertahap melalui PT. Pos Indonesia.

Pada akhir Mei 2011, Abrory pergi ke Jakarta untuk menemui Harry Kuncoro di Pasar Glodok, Jakarta Barat. Harry saat itu dimintai bantuan Abrory untuk dibelikan senpi laras pendek jenis revolver seharga Rp5juta hingga Rp6juta, jenis FN buatan Pindad dengan harga kisaran Rp8juta hingga Rp10juta, senpi FN buatan Amerika harga sekira Rp13juta hingga Rp17juta dan senpi jenis Bareta dengan harga sekira Rp10juta. Harry Kuncoro menyanggupinya.

Setelah itu, Harry kembali menerima transferan uang dari Abrory dibantu kawan-kawannya kisaran Rp25juta hingga Rp28juta untuk keperluan membeli aneka pesanan senpi itu.

Tapi belum sempat dibelikan, pada 9 Juni 2011 Harry Kuncoro ditangkap petugas Densus 88 Antiteror Polri. Saat di Jakarta, Harry juga tercatat pernah tinggal di Kampung Melayu, Jakarta Timur.

  • Tentang Abrory:

Lahir di Desa Kenanga, Bima, Provinsi NTB, 27 November 1975

Alamat:

1. RT006/RW003, Desa Kenanga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Provinsi NTB.

2. Pondok Pesantren Umar bin Khattab, Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, NTB.

Abrory sempat jadi santri di Ponpes Al Muttaqin Jepara (1997-1998), setelah itu pulang ke Bima mendirikan Toko Sembako dan Ponpes Umar bin Khattab.

Dia terlibat dalam ightilayat (pembunuhan diam-diam) kepada Brigadir Rohmad Syaifudin (anggota Polsek Bolo, Bima) pada Jumat 1 Juli pukul 03.00 WITA. Pembunuhan itu dilakukan oleh Syakban alias Syakban A Rahman alias Sya’ban alias Umar Sa’ban bin Abdurrahman, seorang santri tingkat akhir atau santri yang akan lulus dan akan diwisuda pada tahun 2011 di Ponpes Umar bin Khattab itu.

Abrory menanamkan kebencian terhadap negara termasuk aparaturnya (thgout) kepada santri-santri di sana, sehingga memunculkan serangan yang menyasar polisi. Selain menggunakan senjata tajam, mereka juga menyiapkan molotov dan peledak lainnya yang dirakit sendiri.

Harry juga tercatat pernah mengunjungi kontrakan Umar Patek (terpidana terorisme Bom Bali I yang sekarang ditahan di Lapas Porong Sidoarjo, vonis 20 tahun penjara saat sidang di PN. Jakarta Barat) selama di Pamulang, Tangerang, Banten. Saat itu, Umar Patek akan uji coba 3 senpi jenis M16 bersama rombongan Dulmatin. Uji coba senpi dilakukan di pantai wilayah Banten, ditembakkan ke laut, mulai jam 20.00 – 20.30 WIB.

Tiga senpi itu yang kemudian dibawa Umar Patek ke Aceh (pegunungan Jalin Jantho) untuk latihan militer pada 2010. Senpi itu dimaksudkan untuk perangi musuh-musuh Islam.

Ditangkap dan ditahan di Nusakambangan (2011 – 2016)

Saat ditangkap Densus 88 Antiteror pada 9 Juni 2011, keterlibatannya pada insiden Bom Bali I (12 Oktober 2002) adalah membantu mempersiapkan pengeboman bersama-sama dengan Imam Samudera, Mukhlas, Amrozi, Dr. Azhari, dan Noordin M Top.

Harry mengantar Dulmatin yang tak lain adalah kakak iparnya, untuk membeli perlengkapan elektronik perencanaan Bom Bali. Untuk hubungan saudara ini, Harry adalah adik kandung Istiadah, dan Istiadah ini adalah istri dari Dulmatin (alias Amar Usman atau Joko Pitono -> yang tewas dalam penggerebekan di Pamulang, Tangerang, Banten pada 9 Maret 2010).

Harry juga terlibat latihan militer di Pulau Buru (Maluku) dan Filipina. Latihannya meliputi penggunakan senpi jenis revolver, meledakkan TNT, bela diri dan memperbaiki pistol.

Pada tahun 2003 bersama Dulmatin dan Maulana berangkat ke Tawaw, Malaysia. Di sana dia bertemu dengan Umar Patek.

Setelah penangkapan itu, Harry divonis 6 tahun penjara di PN. Jakarta Barat pada 15 Maret 2012. Salah satu deliknya, menyembunyikan Dulmatin serta terlibat dalam distribusi senjata dan amunisi untuk kelompok Dulmatin di Jawa Tengah. Beberapa barang buktinya; sebuah pistol kaliber 45, empat magasin, dan 33 butir peluru kaliber 45.

Harry ditahan di Lapas Pasir Putih Nusakambangan. Di sana, dia ditahan di Blok D, satu sel dengan Abu Bakar Baasyir. Sehari-hari, Harry ini juga melayani segala keperluan Abu Bakar Baasyir mengingat kondisi si ustaz yang sudah tua.

Pada hari  Minggu 20 Maret 2016, Harry Kuncoro dibebaskan karena telah habis menjalani masa pidananya, sesuai Surat Lepas Nomor:W13.PAS24.PK.01.01.02-097 ditandatangani Kepala Lapas Pasir Putih saat itu Hendra Eka Putra.

Setelah bebas, yang menggantikan tugas Harry mengurus keperluan sehari-hari Abu Bakar Baasyir adalah terpidana terorisme lain bernama Cecep alias Tegar, almat di Jalan Pendidikan nomor 59 RT10/RW3, Desa Kenangawungu, Kabupaten Bima, NTB.

Saat ditahan di Lapas Pasir Putih, Harry Kuncoro punya nomor register: BI.183/D/2012 sesuai petikan putusan pengadilan nomor: 2613/Pid.Sus/2011/PN.Jkt.Bar.tgl 15-03-2012.

Selama menjalani hukuman di Lapas Pasir Putih Nusakambangan (2012-2016), Harry juga diketahui menjalin komunikasi dengan Abu Walid alias M. Syaifudin warga Klaten alumnus Ponpes Ngruki Sukoharjo yang bergabung ISIS di Suriah, dan Bahrunnaim via online.

Komentar

Komentar Anda

Tentang seruni cyber 11595 Articles
Portal Berita Nasional, Jagonya Pemberitaan !!! Nusantara | Peristiwa | Lifestyle | E-tainment | Sport | Artikel | Video