Rekam Persetubuhan Bareng Mahasiswi, Oknum Dosen Terancam 12 Tahun

Seruindonesia.com – Seorang oknum dosen perguruan tinggi swasta di Denpasar, I Putu Eka Swastika alias Eka, 26, asal Desa Blahbatuh, Gianyar, terancam dengan hukuman maksimal 12 tahun. Menyusul dugaan bahwa dirinya melakukan tindak pidana pornografi. Bahkan tragisnya, yang menjadi korbannya justru mahasiswinya sendiri. Sebut saja Melati.

Senin kemarin (18/2), oknum dosen tersebut menjalani sidangnya di Pengadilan Negeri Denpasar. Namun, sidang yang dipimpin Hakim I Gde Ginarsa itu berlangsung tertutup. Sementara penuntut umum yang bertugas dalam persidangan ini, Jaksa IGA Rai Artini.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, terdakwa didakwa secara alternatif. Dakwaan pertama dan kedua merujuk pada Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Masing-masing Pasal 29 dan Pasal 32.

Sementara dalam dakwaan ketiga, terdakwa diduga melakukan perbuatan tidak menyenangkan sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sesuai pasal yang diterapkan dalam dakwaan kesatu, ancaman hukumannya maksimal 12 tahun dan denda Rp 6 miliar.  Sesuai dakwaan ini, terdakwa diduga membuat video mesum. Isinya, rekaman dirinya sedang melakukan hubungan badan. “Perkaranya terjadi sekitar 2017 lalu,” jelas sumber di sela jalannya persidangan.

Perbuatan terdakwa itu terjadi sebanyak tiga kali. Satu lokasi kejadiannya, yang pertama, justru di rumah terdakwa sendiri yang terletak di Desa Blahbatuh, Gianyar.

Terdakwa yang usianya relatif muda disebut-sebut mudah berbaur dengan para mahasiswa. Tidak terkecuali dengan korban yang dikenal sejak 2015 lalu. Bahkan sejak 2017, hubungan antara terdakwa dengan korban lumayan dekat. Tapi tidak berstatus pacaran.

Perbuatan terdakwa sendiri berawal saat dirinya mengajak korban jalan-jalan di seputaran Gianyar. Itu pun dengan janji bahwa jalan-jalan itu dilakukan beramai-ramai bersama teman.

Di pertengahan jalan, terdakwa mengajak korban ke rumahnya di Blahbatuh, Gianyar. Alasannya mau ganti baju. Sedangkan korban menunggu teman-temannya. Tapi ternyata itu bohong. Di saat itulah, terdakwa diduga mulai melancarkan rayuan kepada korban untuk mau melakukan hubungan badan. Meskipun saat itu korban menolaknya.

Keesokan harinya, terdakwa kembali mengajak korban ke rumahnya. Alasannya sama. Jalan-jalan. Dan kali ini, terdakwa kembali merayu korban untuk mau berhubungan badan. Tapi korban lagi-lagi menolak.

Karena ditolak lagi, terdakwa mulai mengancamnya. Nilai korban akan dibuat jelek dan reputasinya di kampus akan dijatuhkan. Terlebih terdakwa disebut-sebut punya pengaruh di kampus itu.

Korban yang takut akhirnya bersedia menuruti keinginan terdakwa itu. Dan selama berhubungan badan itu, rupanya terdakwa merekam dan memotret tubuh korban yang tanpa busana dengan ponselnya.

Video dan foto itu kemudian disimpan kembali di laptop miliknya. Korban yang belakangan mengetahuinya minta supaya gambar dirinya dihapus. Nyatanya masih tersimpan.

Pada pertengan 2018 lalu, terdakwa kembali mengajak korban berhubungan badan. Tapi korban kali itu menolaknya. Korban kabur ke rumahnya. Di saat yang sama, terdakwa mengirimkan pesan singkat yang berisi ancaman kepada korban. Intinya, terdakwa mengancam akan menyebar video persetubuhan mereka serta foto bugil korban ke teman-temannya maupun orang lain.

Korban pun lantas memotret (screenshot) isi percakapan tersebut. Berbekal percakapan itulah, korban melaporkan perbuatan terdakwa itu ke polisi.

Sumber: jawapos.com

Komentar

Komentar Anda

Tentang seruni cyber 11807 Articles
Portal Berita Nasional, Jagonya Pemberitaan !!! Nusantara | Peristiwa | Lifestyle | E-tainment | Sport | Artikel | Video