Bangsa Kami, Bangsa Papua ! Tidak Akan Pernah Mati dan Tidak Akan Pernah Habis

Seruindonesia.com – Papua, Sebagai anak Papua yang mempelajari ilmu-ilmu sosial sedang melihat sebuah Bangsa yang sedang berkembang dan akan Maju sebagai bangsa yang terhormat.Karena itu, saya memberitahukan kepada saudara-saudara saya bahwa masa depan kita secara pribadi ada ditangan kita dan kita sendirilah yang mencari solusinya, apa solusi yang tepat atas kondisi bangsa kita.

Bila tidak bisa mendapatkan solusinya maka orang Papua dan bangsa Papua akan tinggal cerita saja.

Saat ini kita banyak doktor dan master. Sarjana berlimpah. Ada tamatan luar negeri, ada tamatan dalam negeri dan ada yang tamat di tengah realitas yang membangun di Papua.

Tapi kita masih diam atas masalah-masalah yang sudah stadium empat ini, itu adalah penyakit.

Gelar yang kita miliki hanya di atas kertas, tidak bisa buat apa-apa untuk tanah air kita. KIta hanya urus perut, hanya urus jabatan, terhanyut dalam rutinitas dan tepuk dada, bangga dengan gelar.

Kita tidak menulis, tidak buat kajian, tidak berjuang, tidak mendidik generasi kita, sibuk dengan urusan yang tidak ada habisnya.

Itu artinya, kita memang ingin membiarkan bangsa kita mati atau gelarmu hanya di atas kertas dan tidak belajar sungguh-sungguh untuk mengerti realitas kita.

Apakah anda sengaja ataupun tidak paham, yang jelas, saya mau memberitahu bahwa, ketika orang sekolah (doktor, master, dan sarjana) diam membisu maka itu tandanya bangsa itu sedang mati pelan-pelan. Matinya aktivitas intelektual adalah matinya sebuah bangsa.

Orang Papua lupa budaya. Budaya bukan sekedar pakaian adat, tapi keseluruhan tatanan kehidupan: religi, sistem politik, mata pencaharian, kesenian, peralatan, bahasa, sistem dan pengetahuan.

Kita masih dibilang pemalas dan hidup dari belas kasihan dan judi. Duduk saja, cerita-cerita saja, habiskan waktu. Miras, Jalan minta sana minta sini sama saudara lain, harap sana harap sini. Setelah dapat uang habiskan saat itu juga, sisanya main judi, togel. Uang habis jalan minta lagi ke saudara padahal sudah sarjana, padahal sehat dan badan kuat, padahal lahan luas, tanah subur, tapi habis dengan miras (Hitung berapa banyak orang Papua mati karena Miras).

Satu pemuda bisa habiskan uang 3 atau 4 juta dalam satu bulan. Uang itu dapat dari mana, sedangkan ia tidak punya pekerjaan, tidak berkebun, tidak berternak! Jawabannya dapat dari belas kasihan orang lain dan judi.

Kita masih bangga dengan sombong di Kantor Gubernur. Tas berisi proposal dan buku togel, keliling jual-jual proposal dari satu ruangan ke ruangan lain di kantor gubernur. kita tidak bekerja, kita masih malas.

Saya dengan beberapa teman saya ada pendatang dua orang dan 2 orang saudara saya orang Papua, mendapatkan borongan. Kami dibayar masing-masing orang Rp. 4.700.000. Satu minggu kemudian, Uang dari 2 saudara saya orang Papua sudah habis. Saudara saya yang satu digunkan bayar SPP adiknya dan bagi-bagi dengan keluarga. Satu lagi yang parah, karena uang itu habis miras dan main togel.

Tidak banyak dari kita yang menghargai proses dan tekun serta hemat. Sebagian hanya mau cepat jadi dan kejar yang besar, tidak ada usaha-usaha kecil, kecuali mama-mama yang jualan. Anak muda takut jualan, jaga gengsi, jalan rapi-rapi tapi dompet kosong.

Perempuan kita akan hancur. Sore-sore, apalagi malam minggu kota Jayapura penuh gadis-gadis belia Papua bercelana mini. Mulut penuh pinang dan rokok di tangan. Berkelompok hingga larut malam, menunggu bookingan dari siapa saja yang mau ajak jalan, sekedar minuman keras atau seks dengan bayaran yang murah. Yang penting dapat uang, entah 100 ribu. Ada yang anak sekolah dan ada yang suda tidak sekolah. Sebagian beralasan di rumah tidak ada makanan dan cari uang sekolah.

Jika perempuan hancur, bagaimana mereka akan menikah, mengandung, melahirkan anak yang sehat dan mendidiknya menjadi besar sebagai penerus bangsa. Bagaimana mengurus suami jika sudah hancur begini. Perempuan kuat, bangsa kuat.

Orang tua kita masih banyak yang malas tahu dengan pendidikan anak. Tidak ada budaya belajar di rumah. Sore hari anak-anak kita tidak ada kebiasaan belajar di rumah. Orang tua punya urusan masing-masing, tidak dampingi anak belajar.

Pada pagi hari, tidak banyak orang Papua yang antar anak ke sekolah. Padahal di rumah ada mobil dan motor. Ada pejabat yang punya mobil dua dan motor ada satu di rumah tapi pagi hari kasih uang sama anak. tidak antar, anak jalan sendiri, naik ojek. Ini bukan soal kasih uang tapi ini soal bagaimana bentuk kasih sayang orang tua. Kita belajar dari Pendatang yang juga punya uang tapi mereka antar anak mereka, lihat di lampu merah pagi hari. Kita bicara tuan tanah tapi tidak urus pendidikan anak baik-baik, bagaimana mau jadi tuan rumah.

Ada sebagian dari Kita yang menyebut dirinya pengusaha tapi setelah dapat proyek, kerja selesai dan uang habis. Tidak ada yang buat unit usaha yang profit atau datangkan uang. Ini beda dengan pendatang.

Kita masih banyak sekolah di pinggiran dan kampus dan jurusan yang bisa cepat jadi sarjana yang dpat nilai gampangan dan masuk diperguruan tinggi yang biasa-biasa pada jurusan-jurusan sosial semua. Jadi, orientasi mencari nilai dan ijazah, tidak cari kemampuan otak dan keterampikan untuk hidup masa depan.

Pejabat Papua kebanyakan hanya bicara-bicara saja di media, tidak banyak aksi nyata, banyak korupsi Hanya memberikan janji-janji tanpa kita sadari membawa kita pada proses pembodohan. Ketika akan di proses hukum mulai bermain politik Papua Merdeka, Isu Ham, Isu Genosida, Isu Konflik Mulai Ditiupkan. Jadi waktu kita hanya dihabiskan untuk kepentingan merekayang korupsi.

Kita masih sibuk dgn KNPB dan ULMWP, padahal ini untuk kepentingan siapa? Bukan untuk kepentingan kita secara menyeluruh, ini kepentingan politik orang-orang yang merasa tersakiti oleh program pemerintah yang membangun generasi dan bangsa papua itu sendiri.

Kita masih ikut menyumbang dana di pinggir-pinggir jalan yang dilakukan oleh aktifis-aktifis yang mengaku peduli kemanusiaan, tapi sebenarnya dana yang kita berikan itu hanya untuk kepentingan orang-orang Papua yang sudah menjadi warga negara luar.

Kita masih mudah dan gampang di bohongi oleh janji-janji mereka bahwa papua akan merdeka, semenjak saya lahir, saya sekolah, saya kuliah, dan hingga saat ini, isu Papua Merdeka masih begitu-begitu saja, tidak ada perubahan, tidak ada Papua Merdeka.

Terus apa yang sudah kita perbuat untuk membangun generasi dan bangsa papua? Ikut sibuk dengan urusan Papua Merdeka, atau sibuk dengan urusan kita membangun anak-anak kita menjadi generasi yang hidup sejahtera, bermartabat dan terhormat.

Itu Semua Kembali Kepada Diri Kita Masing-Masing Sebagai Anak Tuhan.

Edo Mambrasar

Komentar

Komentar Anda

Tentang seruni cyber 12483 Articles
Portal Berita Nasional, Jagonya Pemberitaan !!! Nusantara | Peristiwa | Lifestyle | E-tainment | Sport | Artikel | Video